Terlalu Pede Minoritas Yang Merasa Mayoritas

38

Tragedi 3 minggu sebelum pesta demokrasi di kabupaten Gowa mewarnai dan menandakan demokrasi berjalan dengan baik, perspektif sosiopolitik di kabupaten Gowa.

Di Kabupaten Gowa dengan hanya satu pasangan calon bupati melawan kolom kosong menjadikan pesta demokrasi berjalan dengan aman dan damai, tak seperti perhelatan 5 atau 10 tahun yang lalu, yang hampir menelan korban akibat gesekan politik yang memanas dengan desain para aktor handal dari kabupaten Gowa.

Angin segar demokrasi di Kabupaten Gowa kian mewarnai kontestasi politik dengan bergabungnya seluruh partai politik menyatukan persepsi dan kepentingan mengusung petahana, hal itu mesti diapresiasi secara jantan oleh para aktor politik sebab hal itu merupakan hal yg pertama kali terjadi di tanah yang bersejarah ini.

Belum lagi bercerita tentang kelompok kerajaan yang selalu menjadi rivalitas kelompok petahana dan akhirnya kini menjadi bagian pemenangan dalam satu visi dan misi yang sama demi perjuangan demokrasi dan kemajuan kabupaten Gowa, hal itu menunjukkan kedewasaan yang sangat luat biasa dan menjadikan pesta demokrasi 2020 hari berjalan dengan aman dan damai, hal yang pasti bahwa jikalau sekitanya ada kelompok yang berbuat onar merupakan bagian dari kelompok yang saya sebut “minoritas yang merasa mayoritas”

Kelompok itu pastinya akan mencari celah dan membuat celah agar terjadi gesekan politik yang pada akhirnya dapat menimbulkan suasana yang memanas, perlu diapresiasi kinerja pelaksana pemilu dan pihak keamanan baik kepolisian maupun TNI sebagai garda terdepan menunjukkan dan mengkonsolidasikan kabupaten Gowa yang aman dan kondusif sebab keamanan dan kondusifitas akan menghasilkan ketentraman bersama.

Berkaca diperhelatan 2019 kemarin bahwa banyak tragedi yang mengatasnamakan kelompok mayoritas menggunakan issue identitas keagamaan demi kepentingan kelompoknya dan mengkotak kotakkan masyarakat Indonesia secara menyeluruh, lantaran di lain sisi kelompok ormas yang dari tahun sebelum kemerdekaan berdiri menjadi kelompok mayoritas bahkan personalnya banyak yang berkontribusi mendirikan partai politik demi melihat keberlangsungan demokrasi dengan baik tetapi mereka tak pernah menyebut nyebut diri mayoritas menggunakan issue agama demi kepentingannya, itu pertanda kedewasaannya dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara, memahami Indonesia sebagai suatu kesatuan dari sabang sampai peraoke, berbeda suku, agama serta adat istiadat yang menjadikan Indenesia ini besar dan bertahan sampai sekarang ini.

Sisa menghitung hari pelaksanaan pesta demokrasi di kabupaten Gowa akan segera berlangsung, harapan kita sebagai rakyat kabupaten Gowa mari kita mewujudkan pilkada yang aman dan damai serta jauh dari issu sara keagamaan maupun suku. Terjauh dari provokasi para provokator yang berusaha ingin membuat gaduh pesta demokrasi ini dengan mengangkat issue pengrobekan spanduk dan lain lain, sebab hal itu akan memicu riak dan sumber konflik lantaran hal itu belum jelas kebenarannya, jangan jangan dia yang memasang dia yang merusak juga, hal itu hanya hipotesa dan praduga saja sebab hampir semua narasi yang dibangun belakangan ini berdasar praduga saja tanpa hipotesa yang yang real. Jikalau memang merasa di rugikan, silahkan tempuh jalur hukum sebab negara kita adalah negara hukum agar tidak menjadi sumber fitnah apalagi menjadi gerakan agitasi merusak nama orang lain.